C A T A T A N K E C I L - 1

April 23rd, 2007 by andrinugroho

"HANYA DENGAN BERDZIKIR MENGINGAT ALLAH HATI AKAN TENANG "(Ar-Ra’d:28)


  • Tahajud
    Diriwayatkan dari Anas yang me-marfu-kannya, bahwa Rosululloh Muhammad SAW. Berkata :
    “Shalat di Masjidku ini setara (pahalanya) dengan 10.000 (sepuluh ribu) shalat di Masjid lain, dan shalat di Masjid Al-Haram setara (pahalanya) dengan 100.000 (seratus ribu) shalat di tempat lain, dan shalat di medan perang setara (pahalanya) dengan 1.000.000 (satu juta) shalat ditempat lain. Dan yang lebih banyak pahalanya dari semuanya itu adalah shalat dua rokaat yang dikerjakan oleh seorang hamba di tengah malam, yang dia tidak mengharapkan darinya kecuali apa yang di sisi Allah SWT.”
    Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Asy-Syaikh Ibn Hibban dalam Kitab Ats-Tsawab.

  • “Dalam Qiyam al-layl (bangun malam untuk shalat) terdapat kekuatan, cahaya, dan bekal untuk hidup sehat, lapang dada, dan banyak rizki.”
  • Persiapan Shalat Tahajud :
    Bangun tidur nyalakan semangat dan keinginan kuat juga syukur, maka Malaikat akan menyerap energi positif dan memasukkan ke dalam tubuh sehingga wajah bercahaya, suara berwibawa, dan bahagia.
    Bangun pagi dengan penuh semangat dan syukur pada Allah dan yakin bahwa hari ini akan lebih baik dari kemarin -> optimis.
  • Setelah Shalat Tahajud, kita coba merenung :
    Senin : Tanyakan sikap apa saja pada diri kita yang dibenci/tidak disukai oleh Allah.
    Selasa : Renungkan dan tanyakan sifat apa yang tidak disukai orang-orang yang dekat dengan kita terhadap diri kita.
    Rabu : Teman, atasan, bawahan, dll.
    Kamis : Tetangga
    Jumat : Kita sendiri (yang tidak disenangi pada diri saya)
    Sabtu : Saya harus berbuat apa agar pekerjaan saya lebih baik dari kemarin.
    Minggu : Bagaimana agar saya bisa lebih cerdas, lebih tangkas, bekerja lebih keras.

  • "Barang siapa shalat Subuh berjama’ah, sama pahalanya dengan shalat Tahajjud semalam suntuk.”

  • “Barang siapa shalat Subuh berjama’ah, kemudian I’tikaf sampai waktu Dhuha, maka sama dengan pahalanya haji mabrur.”

  • "Orang yang suka berpikir sedih, penakut, pengecut dan emosional sering kali ditimpa penyakit."

  • “Dan ingatlah kamu pada Allah disaat sehat/sukses, maka disaat kamu sakit/jatuh, Allah akan mengingatmu (menolong kamu).”

  • “Jangan harapkan dirimu masuk surga jika masih ada rasa sombong dalam dirimu, walaupun hanya sebesar biji zarah.”

  • Jika kamu mendapat problem/masalah yang membuat gundah, maka :
    • “Bertakwalah, maka semua problematika kita akan dikumpulkan, kita akan diberi kekayaan bathin dan dunia akan datang kepada kita dalam keadaan menunduk.”
      Ingatlah bahwa setiap petaka/musibah yang terjadi, bisa jadi lebih dahsyat/lebih besar dari yang dialami, sehingga kita bisa senantiasa ingat akan nikmat Allah. Dan menumbuhkan keyakinan bahwa petaka itu adalah ujian terhadap diri kita.
    • Tenangkan dirimu dan optimislah !
    • Berdoa pada Allah dan istighfar !
      Sampaikan semua permasalahan dan permintaan pada Allah, kemudian tawakal, berserah diri pada Allah.
    • Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in (hanya kepada Engkau yaa Allah, kami menyembah, dan hanya kepada Engkau yaa Allah, kami memohon pertolongan)
    • Allohussomad (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)
      “…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya….”
      (QS. 65 (At-Thalaq) : 2-3)
  • “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tidak ada yg berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf : 87)
  • Rasullullah Muhammad SAW berkata :
    “Semua umatku akan diberi maaf/ampun oleh Allah, kecuali ‘mujahir’, yaitu orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan kemudian memamerkannya/membangga-banggakan kemaksiatan tersebut”
  • Bersabda Rosululloh SAW :
    “Tidaklah yang menolak ketentuan Tuhan kecuali Do’a. Dan tidaklah menambah umur kecuali berbuat Kebajikan. Dan seorang laki-laki akan diharamkan baginya rizqi karena dosa yang diperbuatnya.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Hibban)
  • “Bentengi hartamu dengan Zakat, obati penyakitmu dengan Sodaqoh, hadapi ujianmu dengan Do’a.” (HR. Tabrani)
  • Makan yang Haram Menyebabkab Doa Tak Terkabul :
    “……hendaklah engkau memperbaiki mata pencaharianmu, niscaya doamu akan dikabulkan, (karena) sesungguhnya seseorang yang me-masukkan/makan barang haram, maka doanya tidak akan dikabulkan selama 40 hari.” (HR. Ibnu Abbas)
  • Akhlaq Seorang Muslim :
    1. Berbicara dengan lemah lembut, sopan, tutur katanya baik.
    2. Dia pendengar yang baik.
    3. Dia selalu menampilkan wajah dan penampilan yang menyenangkan.
    4. Dia selalu menepati janji.
  • Didiklah Anakmu akan 3 hal :
    1. Cinta Nabi
    2. Silaturahim
    3. Baca Qur’an.
  • Supaya Mendapat Anak Sholeh :
    1. Waktu remaja : makan yang halal dan baik
    2. Menikah secara Islami
    3. Berdoa, terutama saat akan berhubungan : “Robbi habli minash sholihin”
    4. Beri pendidikan Islami
    5. Jaga lingkungan pergaulannya.
  • 4 Tanda Orang yang Bahagia :
    1. Selalu ingat dosa (istighfar)
    2. Tidak mengingat-ingat pada kebaikan yang pernah dilakukan.
    3. Pada urusan akhirat melihat ke atas.
    4. Pada urusan dunia melihat ke bawah.
  • Malaikat Jibril ingin jadi manusia, karena 7 hal :
    1. Ingin bisa sholat jamaah.
    2. Ingin bisa duduk-duduk dengan ulama (dengar nasehat/ceramah/menghadiri majelis ta’lim).
        –> Pahalanya : lebih baik dari sholat sunnah 1000 rokaat
    3. Ingin bisa menjenguk orang sakit.
    4. Ingin bisa ikut antar jenasah sampai ke makam/ta’ziah.
    5. Ingin bisa beri minum orang yang kehausan –> ta’jil (memberi makan/minum orang saat berbuka puasa)
    6. Ingin bisa mendamaikan 2 orang yang tidak tegur sapa.
        –> Mempersatukan 2 orang yang berselisih adalah lebih baik pahalanya dari I’tikaf selama 10 tahun.
    7. Ingin bisa memuliakan anak yatim dan tetangga.

Gunung Jangan Pula Meletus

March 11th, 2006 by andrinugroho

Rabu, 29 Desember 2004
Gunung Jangan Pula Meletus
Oleh Emha Ainun Nadjib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai
Sudrun. Apakah
kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra
mampu menuturkan
kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan
menghitung nilai-nilai
kandungannya?
Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu
mengalir pelan dari
salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah.
Karena tak bisa
kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab,
barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu
dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh
lantak terkeping- keping, akan kubunuh.
"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu
dibanding Aceh!," aku
menyerbu.
"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,"
Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti
biasa, menyakitkan hati.
"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang
rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."
"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir
amat dan paling menderita dibanding kita senegara,
kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan  kesengsaraan
sedalam itu?"
"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia
kepada Tuhannya
sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara
kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan."
"Termasuk Kiai…."
Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa
begini. Sejak
dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.
"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu
peringatan, kenapa tidak
kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta?
Kalau itu ujian, apa
Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan
ketakutan rakyat Aceh
selama ini, di tengah perang politik dan militer tak
berkesudahan?"
Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa
yang lucu dari
kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan
Tuhan? Mempersalahkan
ketidakadilan Tuhan?" katanya.
Aku menjawab tegas, "Ya."
"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"
"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa
Indonesia akan
terus mempertanyakan."
"Sampai kapan?"
"Sampai kapan pun!"
"Sampai mati?"
"Ya!"
"Kapan kamu mati?"
"Gila!"
"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu
mempertanyakan
kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa
di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu
katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak
tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk
apa
mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak
melawanNya. Kenapa kamu
memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir
dari bumiNya,
pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh
genderang perang
menantangNya!"
"Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk
merundingkan hal-hal
yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan
adalah diktator dan
otoriter…."
Sudrun malah melompat-lompat. Yang tertawa sekarang
seluruh tubuhnya.
Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.
"Kamu jahat,"  katanya, "karena ingin menghindar dari
kewajiban."
"Kewajiban apa?"
"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu
diktator dan otoriter.
Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu
belajar
menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan
mengikhlaskannya. Tuhan-lah
satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator
dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang
lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke
tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa
karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan
keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa
pun.Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru
Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus
patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah
yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu
lakukan ini?
Sini, sini…"-ia meraih lengan saya dan menyeret ke
tembok-"Kupinjamkan
dinding ini kepadamu…."
"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.
"Pakailah sesukamu."
"Emang untuk apa?"
"Misalnya untuk membenturkan kepalamu…."
"Sinting!"
"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal
pembelajaran yang
terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."
Ia membawaku duduk kembali.
"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib
terbaik untuk
manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian
atas bajuku.
"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, tahu? Ia
manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang
jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga
hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan
lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal
sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar
4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan
paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang
kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang
membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh
Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab
wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan
mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua
dibiarkan oleh  Tuhan dipenggal kepalanya kemudian
kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan
kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad
dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan
sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian
yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh
kerendahan budaya, yang pol itik kalian busuk,
perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah,
menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan
kalau kalian
ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"
Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras
sehingga saya jatuh ke
belakang.
"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin
mempertahankan keyakinan bahwa
icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan
Rahim…."
"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu
tidak yakin?"
"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku
bersedia Kiai ludahi."
"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku
meludahimu. Yang terjadi
adalah bahwa kamu pantas diludahi."
"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu…."
"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman
cinta sosial, Rahim
cinta lubuk hati. Kenapa?"
"Aceh, Kiai, Aceh."
"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh
dari bawah bumi.
Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang
segera dipisahkan
oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut
mereka langsung ke surga
dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada
saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak
poranda kampung dan kota mereka adalah medan
pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia
Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk
bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka.
Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga
mengatasi segala tema Aceh. Indonesia yang
menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan
Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang
memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan
duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan
perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".
"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan
para korban sukar
dibayangkan akan mampu tertanggungkan."
"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau
bagimu orang yang
tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu
sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari
konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk,
harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah
kebaikan;
sementara yang sebaliknya adalah keburukan-
berhentilah memprotes Tuhan,
karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala
berpikirmu, karena bagimu
kehidupan berhenti ketika kamu mati."
"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak
berdosa,
sementara membiarkan para penjahat negara dan
pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?"
"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para
pencoleng itu di neraka
kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka
memperbanyak dosa
dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu
yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya,
sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar
biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang
umurnya?"
"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua
dan saya sendiri,
Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman
berpikir setakaran dengan
yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."
"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu
bagaimana pola perilaku
Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia
membiarkan terus penyakit
itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras
dan kebudayaannya
penuh penghinaan atas martabat diri manusia
sendiri-maka Tuhan justru
menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan
bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di
Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah
pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat,
serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih
dibiarkan hidup."
"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai
ketidakadilan…."
"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan
ayam menjadi
riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk
kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran
untuk mengetahui, ia sedang riang dan
bersyukur."
"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman
sejahtera hidupnya?"
"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang
kepada mereka
sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi
peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam,
teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih
tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi,
karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu
menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi
peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau
kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta
untuk mulai belajar menundukkan muka, ada
kemungkinan…."
"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong,
karena ngeri
membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil
berdiri dan
ngeloyor meninggalkan saya.
"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan
kepada Tuhan agar
beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana
alam…."
"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau
salahkan adalah Tuhan,
kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"
Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Emha Ainun Nadjib - Budayawan

pencarian yang tak berujung…terus dan terus!

March 11th, 2006 by andrinugroho

bismillahirrahmaanirrahiim

subhanallah.alhamdulillah.astaghfirullah.

saya "tempelkan" pidato kebudayaan rendra, hampir 10 tahun silam yang masih tetap relevan untuk dipahami di era sekarang..

MEGATRUH

Ya. Inilah judul pidato kebudayaan saya malam ini. Megatruh. Megat-ruh.
Megat artinya memutus. Jadi: megatruh adalah memutus ruh. Suasana dukacita
yang mendalam. Bukan suasana perasaan semata, tetapi suasana ruh yang putus dan berada dalam alam kelam. Mengapa begitu?

O, akal sehat jaman ini!
Bagaimana mesti kusebut kamu?
Kalau lelaki kenapa seperti kuwe lapis?
Kalau perempuan kenapa tidak keibuan?
Dan kalau banci kenapa tidak punya keuletan?

Aku menahan air mata
punggungku dingin
tetapi aku mesti melawan
karena aku menolak bersekutu dengan kamu!

Kenapa anarki jalanan
mesti ditindas dengan anarki kekuasaan?
Apakah hukum tinggal menjadi syair lagu disco?
Tanpa pancaindra untuk fakta
tanpa kesadaran untuk jiwa
tanpa jendela untuk cinta kasih
Sayur mayurlah kamu

Dibius pupuk dan insektisida
kamu hanya berminat menggemukkan badan
Tidak mampu bergerak menghayati cakrawala
Terkesima
Terbengong
Terhiba-hiba
Berakhir menjadi hidangan para raksasa

O, akal sehat jaman ini
kerna menolak menjadi edan
aku melawan kamu!……….

Para hadirin yang terhormat

Perkenankanlah saya mengulang apa yang sudah saya ucapkan dalam beberapa wawancara dengan pers. Adalah kodrat manusia bahwa ia mengandung Daulat Alam dan Daulat Manusia di dalam dirinya. Kebudayaan yang kita warisi dari leluhur banyak merenungkan dan menghayati Daulat Alam di dalam kehidupan:
kelahiran, kematian, perjodohan, nasib rezeki, penghayata n pancaindra,
penghayatan badan dan penghayatan alam semesta.

Tetapi merenungkan Daulat Manusia tidak pernah tuntas. Daulat manusia terbatas sekali oleh sifat alam dalam dirinya. Terutama sekali terbatas oleh kelahirannya. Kalau lahir sebagai orang bawah, sebagai orang miskin, sebagai orang tanpa pendidikan, atau se bagai orang perempuan, sukar untuk meningkat keatas, karena tatanan masyarakat diatur seperti tatanan didalam alam.: yang tikus tetap tikus, yang kucing tetap kucing, yang kambing tetap kambing, yang macan tetap macan. Hanya para jagoan saja yang yang bisa menerobos tatanan masyarakat yang seperti itu. Misalnya Ken Arok, si anak jadah dan kriminal jalanan yang akhirnya bisa menjadi raja itu; atau Gajah Mada, tukang pukul yang akhirnya bisa menjadi mahapatih; atau Untung Surapati, seorang hamba sahaya yang bisa meningkat menjadi pahlawan atau jagoan; atau Ir. Soekarno, seorang anak guru yang bisa menjadi Presiden Indonesia yang pertama; atau orang-orang melarat yang bisa menjadi konglomerat. Oh ya, akhirnya banyak juga jagoan-jagoan dalam berbagai bidang bisa muncul. Tetapi kejagoannyalah yang membuat ia mampu mendobrak
tatanan hidup yang resmi, yang sebenarnya tidak banyak memberi hak kepada khalayak banyak untuk memperkembangkan Daulat Manu sia mereka.

Para pemimpin bangsa kita, dari sejak zaman raja-raja dahulu kala, memang tidak pernah menaruh perhatian kepada pengembangan Daulat Manusia pada umumnya. Saat Aristoteles, filsuf Yunani (384-322SM) menulis buku "Politica", menerangkan hak rakyat untuk memilih pemimpin bangsanya, dan tidak membenarkan adanya tirani kekuasaan, para pemimpin bangsa kita masih hidup dalam kegelapan sejarah dan jelas tidak berm inat pada filsafat. Dan pada waktu Raja John dari Inggris mengesahkan Undang-Undang yang disebut orang sebagai Magna Carta, yaitu tahun 1215, raja mengakui kejelasan hak-hak bangsawan bawahannya dan juga hak-hak rakyat yang harus ia hormati dan tak mungkin ia langgar.

Jawa pada saat itu berada dalam pemerintahan Tunggul Ametung yang sebentar lagi akan digantikan oleh Ken Arok. Kedua penguasa dari Jawa itu tak pernah memikirkan atau mengakui UU apapun. Sabda raja itulah UU bagi rakyat. Sebagaimana dalam alam bahwa yang kuat itu yang menang. Maka tatanan masyarakat leluhur kita itupun berlandaskan kenyataan bahwa yang kuat itu yang benar (might is right). Dan yang terkuat dalam di dalam masyarakat tentunya raja. Jadi sabda raja (dekrit raja atau Keppraj, yaitu keputusan raja) yang menjadi sumber kebenaran.

Tentu saja seorang raja Jawa tidak diperkenankan untuk sewenang-wenang. Ia
diharapkan untuk Ambeg Paramarta serta menghayati Hasta Brata. Tetapi bila
ternyata raja tidak memenuhi harapan itu, dan kejam seperti Amangkurat
Tegalarum atau menjijikkan seperti Amngkurat II, ya tidak ada sanksi apa-apa sebab ia kuat, ia raja. Selanjutnya pada tahun 1295 Raja Edward dari Inggris memperbaiki hak-hak parlemen. Dia mengatakan bahwa hanya parlemen yang bisa mengubah hukum.

Hal ini bersamaan dengan saat akhir pemerintahan Kertanegara dari Singasari dan munculnya Majapahit dibawah pi mpinan Raden Wijaya. Kedua penguasa itu, boro-boro punya parlemen, punya kitab UU sebagai landasan pemerintahannya pun tidak. Sabda raja tetap unggul di atas segala-galanya. Hal itu bukan pertanda kebudayaan bangsa kita rendah. Lihatlah candi-candi yang indah, seni membuat keris, syair-syair dari Empu Kanwa, Empu Sedah, Empu Panuluh. Raffles mengagumi karya sastra leluhur kita. Waktu pulang ke Inggris, setelah selesai tugasny a di Jawa, ia membawa 30 ton benda sastra dan seni dari Jawa. Kemudian dengan rasa kagum ia laporkan dan dikupas dalam bukunya "The History of Java". Tetapi didalam kebudayaan Jawa yang tinggi itu, para pujangga dan para rajanya ternyata tak pernah sadar akan perlunya hak-hak konstitusional bagi rakyatnya, yang dilindungi oleh pelaksanaan UU yang berlaku. Di zaman pemerintahan Hayam Wuruk, menurut buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca, pada pupuh 73 digambarkan bahwa Hayam Wuruk bersifat adil dalam melaksanakan UU Agama, yang sebenarnya dituliskan dalam kitab yang berjudul Kutara Manawadharmasastra. Bahkan Demung Sora, seorang menterinya dihukum mati karena telah membunuh Mahisa Anabrang yang tak berdosa. Dengan begitu Demung Sora telah melanggar pasal Astadusta dari Kitab UU Kutara Manawadharmasastra itu.

Namun begitu tidak tercantum di dal am Kitab UU itu hak rakyat untuk punya perwakilan dan ikut menentukan jalannya pemerintahan. Sementara itu di Inggris pada tahun 1649 Raja Charles I dihukum pancung karena dianggap melecehkan parlemen, dan untuk sementara Lord Cromwell diangkat menjadi pelindung parlemen dengan gelar Lord Protector pada tahun 1653. Itulah tahun-tahun berkuasanya Amangkurat I yang kejam, yang sibuk membina kekuasaan yang absolut dan pemerintahan yang ketat dan memusat, yang membuat kehidupan masyarakat menjadi sumpek dan akhirnya dibenci oleh rakyat. Dan waktu John Locke, filsuf dan sastrawan Inggris menulis dua esai tentang pemerintahan yang ideal, yang menghormati hak milik warganegara dan berkewajiban melindungi segala milik warganegara itu, di Mataram berkuasa Amangkurat II yang memerintah di Kart a Sura dengan sewenang-wenang, sombong, kekanak-kanakan, pengecut dan keras kepala. Ia telah membunuh bapaknya Amangkurat I yang tengah sekarat di Tegalarum. Lalu mengkhianati sahabatnya Trunijoyo. Menggadaikan Semarang kepada VOC.
Dan menyewakan tebang h utan dari beberapa wilayah kepada para cukong.
Lalu para cukong menjual kayunya atau hak tebang hutannya pada VOC. (Saya
teringat pada sistem HPH dewasa ini. Ternyata pelopornya adalah Amangkurat
II dengan asprinya yang bernama Adipati Suranata). Ya, Aman gkurat II
inilah pelopor kebangkrutan Mataram, yang sebenarnya memang sudah salah
membangun sejak rajanya yang pertama yaitu Panembahan Senopati. Sebab
raja-raja pendahulu Dinasti Mataram ini salah mengira bahwa stabilitas negara itu adalah pemusatan kekuasaan.

Tetapi di Inggris, sejak zaman Ken Arok, Kertanegara atau Raden Wijaya, para penguasanya atau raja-rajanya mau mengakui daulat hukum disamping daulat raja, bahkan pada akhirnya, sejajar dengan zaman majapahit, raja Inggris mau mengakui adanya daulat rakya t, ternyata negaranya terus stabil. Bukan berarti tanpa pergolakan. Wah, justru banyak pergolakan politik di sana. Tetapi kepastian hidup rakyat makin lama makin stabil.

Dan ternyata dinasti raja-raja mereka tetap lestari bergengsi sampai zaman ini, sehin gga negaranya bisa maju. Sebab kemajuan negara itu tidak mungkin diciptakan penguasa. Paling jauh penguasa itu hanya bisa menyeret bangsanya maju setahap saja, tetapi perkembangan bertahap-tahap seperti di Inggris (dari tahap pertanian ke tahap filsafat, perdagangan, ilmu pengetahuan, teknologi modern, industri dan kebudayaan cybernetic) hanyalah bisa dicapai dengan kemampuan rakyat yang selalu maju berkat dukungan daulat rakyat, yang dilindungi oleh daulat hukum. Tidak ada contohnya dalam sejarah dunia bahwa pemerintahan yang totaliter bisa memajukan bangsa dalam tahap-tahap perkembangan budaya. Di kala dipimpin oleh pemerintah yang totaliter, meskipun sudah mencapai teknologi tinggi, seperti Jepang, Korea dan Jerman, rupanya budaya filsafat, sosial dan ekonomi macet. Baru setelah daulat hukum dan daulat rakyat berlaku, maka ketiga negara itu bisa melewati berbagai tahap budaya dengan pesat, hingga kini harus diperhitungkan sebagai kekuatan yang ikut menentukan perkembangan budaya dunia.

Sebaliknya para raja Mataram yang maniak akan sentralisasi kekuasaan itu, tidak pernah bisa membawa kemajuan kepada rakyat Jawa. Dipandang dari segi kepentingan rakyat, raja-raja Mataram adalah raja-raja yang gagal. Tidak ada kharisma mereka, sehingga gagal menyatukan Jawa. Sebelum ada Mataram, menurut laporan orang Portugis Jono de Barros, orang Jawa itu angkuh, berani, berbahaya dan pendendam. Kalau tersinggung perasaannya sedikit saja, terutama kalau disentuh kepala atau dahinya, terus mengamuk membalas dendam. Seorang Portugis yang lain, Diego de Couto melaporkan bahwa ia mengagumi kecakapan berlayar orang-orang Jawa, bahasa Jawa yang selalu berkembang dan punya aksara sendiri, namun mereka begitu angkuh sehingga menganggap bangsa lain lebih rendah. Maka kalau orang Jawa lewat dijalan, dan melihat ada orang bangsa lain yang berdiri di onggokan tanah atau suatu tempat lain yang tinggi dari tanah tempat ia berjalan, apabila orang itu tidak segera turun dari tempat semacam itu, maka ia akan dibunuh oleh orang Jawa itu. Sebab ia tidak akan memperkenankan orang lain berdiri ditempat yang lebih tinggi. Juga orang Jawa tak akan mau menyunggi beban di atas kepalanya, biarpun ia diancam dengan ancaman maut. Mereka adalah pemberani dan penuh keyakinan diri dan hanya karena penghinaan kecil saja bisa melakukan amuk untuk balas dendam. Dan meskipun ia telah ditusuk-tusuk dengan tombak sampai tembus, mereka akan terus merangsek maju sehingga dekat kepada lawannya.

Bagaimanapun ekstremnya gambaran itu, pada intinya orang-orang Jawa itu terlihat tangkas, berani, berstamina, dan percaya pada diri secara luar biasa. Dan nyatanya di zaman kerajaan Demak dan Banten, saat kedua laporan itu ditulis, orang-orang Jawa menguasai setiap jengkal dari tanahnya. Tak ada kekuatan asing yang bisa melecehkan kedaulatan tanah air mereka. Banten dan Demak bebas dari kekuasaan asing. Semarang dan Jepara menjadi tempat galangan kapal yang memprodusir kapal-kapal besar dan kecil dalam produktivitas yang tinggi. Arsitektur mengalami perkembangan yang besar. Atap Limasan, gandok, pringgitan dan pendopo joglo yang lebih besar diciptakan (sebelumnya pendopo itu kecil seperti gazebo). Orkestrasi gamelan berkembang karena diciptakannya gambang
penerus, bonang penerus dsb. Variasi kendang-kendangpun bertambah. Lalu tembang-tembang Mocopat muncul sebagai eksperimen baru. Pertunjukan wayang kulit ditambah dengan kelir dan blencong. Santan dan minyak goreng ditemukan. Begitu pula krupuk, trasi dan penganan-penganan dari ketan bertambah variasinya. Masakan pepes dan kukus juga diketemukan. Lalu soga untuk pewarna kain batik, genting dari tanah liat, dan baju yang berlengan dan berkancing. Semua itu tentu saja merupakan pengaruh asing. Barangkali pe ngaruh dari Cina dan Campa. Tetapi daya adaptasi dan mencerna rakyat terhadap unsur-unsur baru sangat kreatif. Keunikan sastra suluk di zaman itu lebih lagi membuktikan
kemampuan orang-orang Jawa untuk beradaptasi tanpa kehilangan diri, bahkan
bisa unik. Mereka penuh harga diri dan pasti diri. Ini semua karena mereka merasa punya jaminan kepastian hidup. Dan kepastian hidup ada karena adanya daulat hukum yang tertera dalam kitab "Salokantara" dan "Jugul Muda" ialah kitab UU Demak yang punya landasan syari ‘ah agama Islam, yang mengakui bahwa semua manusia itu sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Raja-raja Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para wali. Raja-raja Demak berkuasa hanya selama 65 tahun.  Tetapi mereka adalah pahlawan bangsa yang telah memperkenalkan daulat hukum kepada bangsanya, yang akan terus membekas sampai kepada Mohammad Syafei, HOS Cokroaminoto dan tokoh-tokoh pembela hak azazi manusia (HAM) dewasa ini. Sayang, begitu muncul Panembahan Senopati, rasa hormat pada daulat hukum itu dilecehkan. Sultan bergelar Sayidin Panatagama, dan terus sampai kepada seluruh keturunannya, kefanatikan terhadap kekuasaan raja yang mutlak dan sentralisasi kekuasaan itu dipert ahankan. Rakyat disebut kawula (abdi) dan bukan warganegara. Hidup rakyat tidak pasti. Inisiatif mereka mulai terbatas. Banyak larangan untuk ini dan itu. Rakyat tak bisa mengontrol atau memberi tanggapan kepada kekuasaan. Maka daya hidup rakyat merosot. Yacob Couper, panglima tentara Belanda, menganggap daya tempur tentara Mataram sangat rendah. Sangat jauh dari deskripsi yang dilukiskan oleh Jono de Borros ataupun Diego de Couto. Sebenarnya saya sudah sering melukiskan perbedaan antara Mataram dan Demak ini berulang kali dalam wawancara-wawancara dengan pers. Tetapi sekarang, maafkanlah, perlu saya ulang lagi demi kejelasan argumentasi pembicaraan saya malam ini. Raja yang melecehkan daulat rakyat, akhirnya juga melecehkan daulatnya sendiri. Sebab daulat rakyatlah yang mendukung daulat raja. Sebagaimana daulat rakyat Inggris yang memungkinkan daulat raja Inggris bergema di seluruh dunia.

Dan menurunnya wibawa daulat rakyat Mataram juga menyebabkan daulat raja
mereka semakin merosot. Sultan Agung tidak pernah bisa menjamah Batavia. Anaknya Amangkurat I lari terbirit-birit oleh pemberontakan Trunojoyo. Lalu pergi ke Tegal untuk mengemis per lindungan kepada VOC. Raja yang tidak mau berbagi kekuasaan dengan rakyat itu, malah mau berlindung dibawah ketiak orang asing yang bernama VOC. Belum sampai ke Tegal ia sudah sekarat. Dalam keadaan sekarat, ia diracun oleh anaknya yang punya sifat menjij ikkan dipandang dari segi kemanusiaan yang beradab, yang kemudian menggantikannya dan bergelar Amangkurat II. Dan raja yang congkak, yang gila kekuasaan, si Amangkurat II ini suka berdandan seperti Belanda, secara diam-diam dileceh oleh Gubernur Cornelius Speelman sebagai "anak emas kompeni". Raja yang tambun ini menyebut Gubernur "Eyang" dan menyebut komandan militer lokal Belanda dengan sebutan "Romo". Lebih jauh lagi, nanti salah satu keturunannya yang bernama Paku Buwono II, ternyata telah melecehkan harga dirinya sendiri. Meskipun ia melecehkan daulat rakyat, ternyata ia tidak segan menulis perjanjian dengan Kompeni Belanda pada tahun 1749 yang bunyi nya sebagai berikut: "Inilah surat perkara melepaskan serta menyerahkan terhadap keraton Mataram, dari kanjeng Susushunan Paku Buwana Senapati Panatagama, ialah dikarenakan oleh perintah Kanjeng Kumpeni yang agung itu, keratuan ini diserahkan kepada Kanjeng Tuwan Gupernur serta direktur di tanah Jawa Djohan Andrijas Baron Van Hogendorf. Hamba, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati Hing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama…………" Begitu dan seterusnya ia tanpa malu-malu merendahkan dirinya dan mengangkat-angkat penguasa asing dengan cara yang berlebihan. Sungguh karikatural. Masa pemerintahan Kartasura dan Surakarta adalah masa yang sangat memalukan bagi sejarah Mataram dan sejarah orang Jawa.

Kesenian yang dilahirkan adalah kesenian manis seperti permen. Penuh rasa haru tetapi tidak punya ketajaman olah pikiran. Ada seorang pujangga yang istimewa: ialah Raden Ronggowarsito yang muncul jauh setelah Mataram sirna. Tetapi ia tidak dihargai oleh para penguasa saat itu, meski sangat dicintai oleh rakyat kebanyakan.

Ekonomi kacau. Utang kepada Kompeni menumpuk. Amangkurat II menggadaikan
Semarang dan hutan-hutan. Pakubuwana II menggadaikan kerajaan. Sedangkan di Inggris, di masa yang sezaman dengan Amangkurat II, karena rakyat Inggris punya kedaulatan yang jelas, yan g dilindungi UU, maka karena informasi mengenai jalannya ekonomi kerajaan Inggris bersifat transparan, dan kepastian hukum bisa bersifat vertikal, tidak horisontal, sehingga perencanaan dagang dan ekonomi bisa lebih aman diatur, maka pada tahun 1694 Bank of England sudah mulai didirikan. Kekuatan dan bonafiditas perbankan suatu bangsa adalah bonafiditas kemampuannya membangun dan berencana. Kekuatan dan bonafiditas semacam itu hanyalah mampu dihasilkan oleh daulat rakyat yang kuat dan terus dibina. Tujuan dari pidato saya ini adalah untuk secara jujur melakukan instropeksi budaya. Negara kita akhirnya sudah merdeka, tetapi kenapa bangsa Indonesia masih belum juga sepenuhnya bisa merdeka? Bukankah tanpa hak hukum yang bisa berfungsi vertikal suatu ba ngsa tidak bisa benar-benar merdeka.

Sejarah menunjukkan lubang-lubang dari daya pertahanan kita sebagai suatu
bangsa sebagaimana nampak dalam sejarah Mataram. Namun ada juga kenyataan
bisa punya harapan apabila menilik kepada sejarah Demak. Hadirin sekalian.

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

with courtesy to W.S. Rendra, 16 November 1997

pilih saleh atau malu?

November 8th, 2005 by andrinugroho

membaca tulisan kang sobary ini membuat saya tertampar. sudahlah tak saleh juga tak memiliki malu sama sang Empunya malu. masyaallah! pilih mana kamu?

SALEH DAN MALU

Beruntung, saya pernah mengenal tiga orang saleh.  Ketiganya tinggal  di  daerah yang berbeda, sikap dan pandangan agamis mereka berbeda, dan jenis kesalehan mereka pun berbeda.

Saleh pertama di Klender, orang  Betawi  campuran  Arab.  Ia saleh,  semata  karena  namanya. Orang menyukainya karena ia aktif siskamling meskipun bukan pada malam-malam gilirannya.

Orang kedua, Haji Saleh Habib Farisi, orang Jawa. Agak  aneh memang,  Habib  Farisi sebuah nama Jawa. Tapi ia saleh dalam arti sebenarnya. Minimal kata  para  anggota  jamaah  masjid kampung itu.

Jenggotnya  panjang.  Pici putihnya tak pernah lepas. Begitu juga  sarung  plekat  abu-abu  itu.  Tutur  katanya  lembut, seperti  Mas Danarto. Ia cekatan memberi senyum kepada orang lain. Alasannya: "senyum itu sedekah". Kepada  anak  kecil,  ia  sayang.  Hobinya  mengusap  kepala bocah-bocah  yang  selalu  berisik  pada  saat  salat jamaah berlangsung. Usapan itu dimaksudkan agar anak-anak tak  lagi

bikin gaduh. Tapi bocah tetap bocah. Biar seribu kali kepala diusap, ribut tetap jalan. Seolah mereka  khusus  dilahirkan buat bikin ribut di masjid.

"Ramai  itu  baik  saja," katanya sabar, (ketika orang-orang lain pada marah), "karena ramai  tanda  kehidupan,"  katanya lagi.  "Lagi  pula,  kita  harus  bisa  salat  khusyuk dalam keramaian itu."

Mungkin ia benar. Buktinya  ia  betah  berjam-jam  zikir  di masjid.  Sering  salatnya  sambung-menyambung tanpa terputus kegiatan lain. Selesai  magrib,  ia  tetap  berzikir  sambil kepalanya terangguk-angguk hingga isya tiba.

Jauh  malam,  ketika  semua  orang  masih  lelap dalam mimpi masing-masing, ia sudah mulai salat  malam.  Kemudian  zikir panjang sampai subuh tiba. Selesai  subuh,  ia zikir lagi, mengulang-ulang asmaul husna dan beberapa ayat pilihan  sampai  terbit  matahari,  ketika salat  duha  kemudian  ia  lakukan.  Pendeknya,  ia penghuni masjid.

Tidurnya cuma sedikit. Sehabis isya, ia  tidur  sekitar  dua jam.  Kemudian,  selesai  salat  duha,  tidur lagi satu jam. Selebihnya zikir,  zikir,  zikir….   Pas   betul   dengan nama-nama  yang  disandangnya. Dasar sudah saleh, plus Habib (nama sufi besar), ditambah Farisi  (salah  seorang  sahabat Nabi).

Kalau  kita  sulit menemui pejabat karena banyak acara, kita sulit menemui orang Jawa  ini  karena  ibadahnya  di  masjid begitu padat.

Para

  tetangga  menaruh  hormat  padanya.  Banyak  pula yang

menjadikannya semacam idola. Namun, ia pun punya kekurangan.

Ada

  dua  macam  cacat  utamanya. Pertama, kalau dalam salat jamaah tak ditunjuk jadi imam, ia tersinggung. Kedua,  kalau orang  tak  sering "sowan" ke rumahnya, ia tidak suka karena ia menganggap  orang  itu  telah  mengingkari  eksistensinya

sebagai orang yang ada di "depan".

"Apakah  ia  dengan  demikian  aktif  di masjid karena ingin menjadi tokoh?" Hanya Tuhan dan ia yang tahu. Pernah  saya  berdialog  dengannya,  setelah  begitu   gigih menanti  zikirnya  yang  panjang  itu  selesai. Saya katakan bahwa kelak bila punya waktu banyak, saya ingin selalu zikir di  masjid seperti dia. Saya tahu, kalau sudah pensiun, saya akan punya waktu macam itu.

"Ya kalau sempat pensiun," komentarnya.

"Maksud Pak Haji?"

"Memangnya kita tahu berapa  panjang  usia  kita?  Memangnya kita tahu kita bakal mencapai usia pensiun?"

"Ya, ya. Benar, Pak Haji," saya merasa terpojok

"Untuk mendapat sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan seluruh  waktu  kita.  Mengapa  kita  keberatan  menggunakan beberapa jam sehari buat hidup kekal abadi di surga?"

"Benar, Pak Haji. Orang memang sibuk mengejar dunia."

"Itulah. Cari neraka saja mereka. Maka, tak bosan-bosan saya ulang nasihat bahwa orang harus salat sebelum disalatkan."

Mungkin tak ada yang salah dalam sikap Pak Haji Saleh.  Tapi kalau  saya  takut,  sebabnya  kira-kira  karena ia terlalu menggarisbawahi "ancaman". Saya membandingkannya dengan orang  saleh  ketiga.  Ia  juga haji,  pedagang  kecil,  petani  kecil,  dan  imam di sebuah masjid kecil. Namanya  bukan  Saleh  melainkan  Sanip.  Haji Sanip, orang Betawi asli. Meskipun  ibadahnya (di masjid) tak seperti Haji Saleh, kita bisa merasakan kehangatan imannya. Waktu saya tanya, mengapa salatnya  sebentar,  dan  doanya  begitu pendek, cuma melulu istighfar (mohon ampun), ia bilang bahwa ia tak ingin  minta aneh-aneh. Ia malu kepada Allah.

"Bukankah  Allah  sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Ia berjanji akan mengabulkannya?"

"Itu betul. Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya memalukan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari nyadong berkah-Nya, tanpa pernah  memberi. Allah  memang  mahapemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak  kita gunakan?" katanya lagi.

Bergetar  saya.  Untuk pertama kalinya saya merasa malu hari itu. Seribu malaikat, nabi-nabi, para wali, dan  orang-orang suci  –langsung  di  bawah  komando  Allah– seperti serentak mengamini ucapan orang Betawi ini.

"Perhatikan di masjid-masjid, jamaah yang minta kepada Allah kekayaan,  tambahan  rezeki, naik gaji, naik pangkat. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian  di  kantor  kita. Allah  kita  puji-puji  karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak

tahu  malu.  Allah  kita  sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena  kita  memang  harus menyembah, seperti tekad Al Adawiah itu," katanya lagi.

Napas  saya  sesak.  Saya  tatap  wajah orang ini baik-baik. Selain keluhuran batin,  di  wajah  yang  mulai  menampakkan tanda  ketuaan  itu  terpancar  ketulusan iman. Kepada saya, Kong Haji itu jadinya menyodorkan sebuah cermin.  Tampak  di sana,   wajah  saya  retak-retak.  Saya  malu  melihat  diri

sendiri. Betapa banyak saya telah meminta selama  ini,  tapi betapa  sedikit saya memberi. Mental korup dalam ibadah itu, ternyata, bagian hangat dari hidup pribadi saya juga.

—————

Mohammad Sobary, Tempo 16 Maret 1991